Waktu Belom Maju-maju
Jadi, cerita ini bermula dari aku yang lagi menuju ke umur 29 tahun. Terus aku Aku tuh tipe yang seneng banget mengevaluasi diri aku sendiri, suka banget? banget banget banget. bagus? enggak sepenuhnya bagus! Kenapa? karena tanpa disadari, aku memasang ekspektasi pada manusia-manusia. Manusia itu bukan cuma orang lain yang keliatan oleh mataku, tapi juga diriku sendiri, kan aku manusia, aku pasang banyak ekspektasi pada aku, manusia yang banyak kurangnya ini.
Alesannya apa aku bikin ekspektasi pada diriku? Balik lagi, karena aku leader, aku berharap ekspektasiku pada diriku tercapai, supaya bisa jadi teladan buat yang lain (keliatannya mulia banget ya?? padahal kaga ada mulia-mulianya itu hahahaha).
Jadilah hasil evaluasi menunjukkan kalau aku punya banyak totol-totol gelap pada perjalanan setahun terakhir, dan mulailah si manusia ini membenci dirinya. Aku ngga suka banget sama Mela di umur 28 tahun, banyak banget jatoh dalem dosa, banyak banget ngga lakuin firman Tuhan, banyak gagal, dan (terlebih) gak maju kemana-mana.
Trus setelah berminggu-minggu aku ngga bisa tidur, karena mikirin banyak hal, akhirnya aku menyerah. Selama berminggu-minggu ngga bisa tidur, aku tetep update kehidupan aku ke pemurid-pemuridku, dan ke temen komit aku. Gampang gak ngakuin ke orang kalo lagi lemah? Susah, susah banget malahan. Masa pemimpin lemah, gimana mau mimpin? Tapi aku komit mau tetep update kehidupan aku, supaya tetep bisa dijagain dan didoain. Dan betul aja, aku ini produk-produk yang dijagain oleh Tubuh Kristus..
Awal mula aku kembali, waktu aku baca Mazmur 139:17-18, isinya begini "Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau"
Pas baca aku terdiam cukup lama. Sampai berhari-hari kalimat "Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau" terngiang-ngiang dikepala. Mulai tersentuh, karena aku belum berhenti membenci diriku, bahkan setelah aku baca "apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau". Membayangkan Tuhan jalan bareng aku, trus pas aku berenti karena merasa marah sama diriku, aku membayangkan Tuhan ikutan berenti.
Bayangin lo lagi merasa ngga ada kemajuan, berenti di tempat, ga kemana-mana, trus ada pribadi yang ikutan diem dan menanggung fase stagnant itu bareng elo. Ngga ada kalimat yang bisa gambarin betapa bertengkarnya kebenaran firman Tuhan dan logika gue.
Tanpa disadari, aku bilang "udah deh Tuhan, akutuh ngga ketolong lagi, aku ngga bisa ditolong lagi, udah, Tuhan ngga usah berenti bareng aku lagi, maju aja tanpa aku" tapi lalu aku masih juga ngebacain ulang Mazmur 139, berkali-kali setiap hari dengan perasaan yang sama. Sampai ada satu malem aku baca Mazmur 139: 9-12, ayatnya bunyinya begini:
"Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga disana tanganMu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagiMu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang"
pas baca langsung bilang dalem hati "ih, ada Mela nih di alkitab" wkwkwkwkwk
itu aku, itu aku. Aku yang bilang, "Tuhan, aku mau terbang dengan sayap fajar, membuat kediaman di ujung laut, supaya Tuhan ga perlu repot-repot nolong aku, anak yang pertumbuhannya ngga signifikan ini, anak yang gagal, anak yang ngga ngerti bersyukur ini" tapi justru waktu aku bilang gitu, firman Tuhan yang selanjutnya justru tergenapi, aku justru makin bisa lihat gimana tangan Tuhan menuntun anak perempuan yang hopeless banget ini, aku bisa lihat tangan kanan Tuhan nolongin aku terus-terusan.
Aku yang bilang sama Tuhan "Tuhan, ngga usah cape-cape menerangi aku. gapapa aku sendirian di pojokan ini, karena memang ngga ketolong lagi akutuh, Tuhan. Gapapa aku dalem gelap aja, Tuhan ngga usah cape-capein diri untuk jadi terang buat aku." Tapi lagi-lagi firman Tuhan memang harus jadi, ngga ada tuh masa-masa gelapku yang Tuhan ngga terangin dengan cintaNya Tuhan. firman Tuhan yang aku baca, gimana Dia mengasihi aku, dibuktiin bukan cuma waktu aku berhasil, tapi bahkan waktu aku ngerasa ngga maju kemana-mana.
Kemudian ada waktu dimana aku diem waktu ngambil waktu buat nyembah Tuhan, lalu aku sadar, bahwa kekecewaan ini dimulai dari ekspektasi yang tidak terpenuhi. Kekecewaan ini juga bermula dari aku yang mengandalkan manusia (Mela, seorang pemimpin), yang harus bisa jadi teladan buat orang lain. Kemudian ditegur lagi waktu baca highlight IG sendiri di Yeremia 17: 5 yang bilang gini "Beginilah firman Tuhan: "terkutuklah orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!" :") lembut banget kan?
Temen-temen, teladan satu-satunya itu Kristus, mau kita lagi belajar apapun, belajar dari Kristus. Aku dan semua pemimpin bukanlah teladan yang valid untuk diikuti. Cuma Kristus, satu-satunya tempat kita belajar. Kalau hari ini aku bisa menginspirasi beberapa orang, menguatkan banyak orang, bukan karena Mela (manusia ini) berhasil melakukan ini dan itu dan banyak hal lainnya. Tapi karena kekuatanNya, anugerahNya, kesabaranNya, sukacitaNya, hikmatNya, dan hal-hal lainnya, yang bukan dari dirinya sendiri, dari Tuhan aja.
Aku mau tutup dengan ayat yang aku ucapin berulang-ulang di akhir Desember dan awal-awal Januari, yang nemenin aku lewatin fase ketar-ketir masukkin 2021, dan sepertinya akan terus aku gaungkan di hati dan di bibir aku sepanjang tahun ini, "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia" -Ibrani 11:7
Yuk, kita terus maju pandang Kristusnya, jangan liat ladang pekerjaan kita, terlebih, jangan lihat manusia dan seberapa terbatas dan kurangnya manusia ini, pandang Allah, Bapa kita yang setia dalam perjalanan ini, yang tidak pernah cape. Dia yang support kita buat jalan maju, Dia yang bikin kita terus-terusan maju, dan Dia yang menjadi tujuan kita sehingga kita mau maju. Yuk, maju yuk!
Cheers!
Komentar
Posting Komentar