Kenapa Sibuk Merasa Tidak Cocok?

Halo! Sudah lama sekali tidak menulis disini. Banyak hal yang terjadi belakangan terakhir, perpindahan fase hidup lebih tepatnya (kiw!). Dan aku sangat sangat sangat bersyukur tentang hal itu. Belakangan aku melihat diriku sangat sulit mengasihi. Belakangan ini rasanya nyaman sekali dengan orang yang "itu itu aja". Bisa disebut sebagai mengurangi hal-hal yang dapat menimbulkan gesekan. "ah yaudalah", "yaudalah biarin aja" Setelah lama berfikir, aku baru sadar bahwa aku sibuk saja menghitung ketidakcocokan -ku pada si A si B si C. Jadi, saat ada kesalah pahaman, aku sibuk aja memikirkan "untunglah saya sama dia ngga deket-deket amat, kita ngga cocok ternyata". Tapiiii itulah Roh Kudus, Dia bukan hanya menyertai untuk menonton perjalanan ini, Dia datang dan selalu (selalu) menegur hati ini tiap kali pikiran salah itu datang. "Hah? Salah? Bukankah tiap orang selalu punya ketidak cocokan dan itu wajar?" "Wajar kalau kita ngga cocok karna hidup aja sudah dikeluarga berbeda, bahkan dikeluarga saja kita diperlakukan berbeda. Jadi wajarlah kalau kita ngga cocok sama orang lain" Batas wajar itu kalau aku tetap bisa mengasihi (bukan pura-pura mengasihi ya) sekalipun aku beda pendapat, ngga sejalan, ngga seiya. Tapi kalau dengan ngga sejalan, ngga seiya lalu aku engga berinteraksi, "enggan menambah drama hidup" kataku dulu, itu namanya tak wajar. “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” ‭‭Efesus‬ ‭2‬:‭10‬ ‭TB‬‬ Kata dipersiapkan Allah sebelumnya, artinya jauh sebelum dunia ini dijadikan, Tuhan tahu siapa sekitarku! Sementara Allah sibuk menunjukkan betapa Dia mengasihi aku dan sekitarku, aku terus sibuk saja mengisi daftar ketidak cocokan aku dan daftar ke-enggan-an aku berinteraksi dengan orang lain. Dia mengasihi aku hingga Dia tidak bisa TIDAK memberikan orang-orang terbaik untuk hadir disekitar aku. "Will you stop listing?" Tanya Tuhan dalam hatiku suatu hari. Aku terkekeh-kekeh sambil berurai air mata. Kemudian aku mulai menceritakan betapa pengertian dan kesabaranku terbatas untuk banyak hal, dan itu melelahkan. Tuhan mulai memeluk aku sampai aku terbanjir-banjir sedih. Hati dingin ini butuh tahu, bahwa dia ngga sendirian melalui banyak perjalanan yang membutuhkan pengertian dan kesabaran. That's why I love Him!:" Allah mengasihi aku tanpa perlu aku berkompetisi satu dengan yang lain. Menjadi yang paling sabar, menjadi yang paling berdoa, menjadi yang paling konsisten melakukan. Allah mengasihi kita dengan panjang sabar, dan kasih setia dan pengertianNya. Allah mengasihi kepada yang melakukan FirmanNya dan kepada yang tidak melakukan FirmanNya. Tapi, bukankah menyenangkan melakukan perkataanNya? Bukankah setiap kali aku melakukan perkataanNya, aku bisa melihat bahwa Dia bukan hanya menyertai untuk menonton saja? Tapi Dia tambah-tambahkan padaku dari apa yang aku tak mampu lakukan. Kiranya kita melangkah maju dengan takut akan Tuhan <3

Komentar

Postingan Populer