Manusia Tanpa Pilihan

Dua bulan terakhir, aku berkutat dengan masa lalu. Engga, masa lalunya bukan mantan yang "hai..hai..how's life" hehehe, ini soal mimpi yang pernah aku hold karena aku menemukan sebuah panggilan. Panggilan yang akhirnya menuntun aku kepada titik ini.

Hari-hari ini waktuku banyak dihabiskan dengan online meeting. Diluar jam kerja, akan sangat mudah menemukan aku di balik layar komputer rumah, mendengarkan orang bercerita, mengajar mereka, menyembah Tuhan bareng-bareng sama tim yang lagi dibangun, dan banyak "leader stuff" lainnya.

Dua bulan terakhir aku merasa jumlah pertemuan ini makin tight, makin banyak temen-temen yang perlu diajar dan dibangun dengan Firman Tuhan. Aku yang kurang menyukai kesibukan ini (karena aku tipe orang yang seneng nyembah bareng, doa bareng, bukan jadi gangsing, jumping from one to another zoom meeting to equip people) berusaha sekuat tenaga menemukan Tuhan dalam pertemuan-pertemuan ini. Mencoba dengan sangat-sangat keras mungkin bisa dibilang.

Akhirnya timbullah perasaan "dituntut" by unknown hehehehe.. serius, ini masalah serius..

Protes banyak hal sama Tuhan, karena merasa "kenapa banyak orang bisa kerjain mimpi mereka? Kenapa mereka bisa lenggang kangkung lakuin apa yang mereka mau? Sementara aku ini Si Manusia Tanpa Pilihan"

Berminggu-minggu aku berkutat disana, flashback bagaimana hidupku dulu yang sangat-sangat bebas memilih, sangat-sangat jauh dari tuntutan kepemimpinan yang "sangat terlihat" dan "tak ada yang tersembunyi" ini, hahahahaha. Krisis kepercayaan ke Tuhan mulai naik, mulai mempertanyakan keputusan Tuhan dulu manggil aku. Mulai mempertanyakan, apakah ini jalan yang tepat, karena semakin aku sibuk sekarang, semakin aku mual dan ingin pergi. Mulai merasa bersalah karena ngga bisa jadi pemimpin yang bisa kasih contoh yang baik, I started to hate myself for every decision I took. Tidak mensyukuri apa yang sedang dicapai dan yang sedang dijalankan sekarang.

Two months cukup membuatku merasa exhausted..

Sampai aku ada di titik, aku mau mikirin hidupku, aku mau berhenti dari ini semua, ini semua ngga make sense..

Long story short, aku menemui semua pemuridku dan mereka lead aku ke arah ngga boleh keluar, atau berhenti, atau ((bahkan)) cuti pelayanan..
I let God interfensi aku, ooooo iya, fyi, dalam masa-masa di atas pun aku ngga mengurangi jam pertemuan dengan Tuhan ya, aku hanya ngga bisa menikmati waktu-waktu pertemuan itu, ngga bisa sehaus sebelumnya..

Firman berbicara begitu banyak, apalagi yang harus aku lakukan kalau bukan bertobat?
Pelan-pelan aku melembutkan hatiku yang menurutku kemarin itu cukup keras. Semua teguran dan peneguhan yang aku terima, pelan-pelan aku coba serap..

So happy..

Ini dimulai dari mezbah youth sabtu pagi, Tuhan berfirman

"Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." - Roma 8:35-39

Kemudian aku merasa diterima di hadiratNya, seberapapun kotornya aku, seberapapun salahnya aku, karena menjadikan panggilan Tuhan itu alesan untuk nyalahin Tuhan, dan ngedumel karena aku ini "Manusia Tanpa Pilihan".

Ketika aku mau ditegur Firman Tuhan, aku mohon ampun.. Setelah itu, berdatangan semua firman-firman yang mendukung, dan meneguhkan aku.

"Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya Ia arahkan kepada upah."-Ibrani 11:24-26

Apa upah kita??

Filipi 3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,


upah kita adalah mengenal Dia dalam setiap jalan-jalan, proses-proses, dan fase-fase hidup kita.
Sudahkah kita mengenal Dia, kehendakNya dan isi hatiNya di fase ini? Apakah pengenalan akan Kristus bener-bener layak digantikan oleh ambisi mewujudkan mimpi?

Pengkotbah 3:11 bilang "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir"

Selalu ada waktu untuk segala sesuatu. Waktu untuk gagal dan berhasil, waktu untuk menahan mimpi dan mewujudkan mimpi, waktu untuk menunda dan melaksanakan apa yang ditunda. Tapi yang kekal itu, Allah, selalu ada di semua fase itu. Apakah kita sudah mengenal isi hatiNya?

Jadi apakah aku ini benar-benar manusia tanpa pilihan?

Ternyata aku salah..
Ternyata aku punya pilihan..
Aku punya pilihan untuk taat dan ngga taat, dan aku pilih taat..

Komentar

Postingan Populer